Tips Menghtiung Dimensi Kolom dan Dimensi Balok serta Tebal Pelat Lantai dalam Bangunan - Arsitur Media Desain

Tips Menghtiung Dimensi Kolom dan Dimensi Balok serta Tebal Pelat Lantai dalam Bangunan

- 2/01/2018


Dalam merancang dan menggambar bangunan, kita sering dihadapkan dengan masalah berapa besar ukuran kolom dan balok yang diperlukan untuk menopang ruang yang kita rancang. Apalagi bila bangunan bertingkat yang pasti memiliki beban lantai sehingga lebih berat.


Menghtiung Dimensi Kolom dan Dimensi Balok serta Tebal Pelat Lantai
Menghtiung Dimensi Kolom dan Dimensi Balok serta Tebal Pelat Lantai dalam Bangunan


Sejatinya, dimensi kolom dan balok termasuk pondasi dan sloof serta pelantaian adalah tanggung jawab ahli struktur. Untuk bangunan skala menengah hingga besar wajib hukumnya menyertakan alhi struktur dalam perancangan.

Arsitek, meskipun mungkin bisa menghitung namun tidak memiliki tanggung jawab untuk hal tersebut. Jadi perhitungan berikut adalah murni untuk tahap perancangan saja.

Perhitungan besaran dimensi kolom dan balok sangat berpengaruh saat merancang gambar denah maupun tampak apalagi potongan. Jika kita bisa memprediksi lebih awal maka kita bisa mengantisipasi posisi maupun bentukan kolom/balok yang relatif besar dan menggangu kelegaan ruang. Sehingga kita dapat membuat gambar yang lebih akurat.

Adapun besaran dimensi kolom dan balok ditentukan oleh panjang bentangan antar kolom. Misalnya sebuah rumah bertingkat yang memiliki bentangan 6 meter, maka perhitungan dimensi kolom dan baloknya adalah sebagai berikut :

Kasus :

- Bentangan antar kolom berjarak 6 meter
- Tentukan dimensi kolom
- Tentukan dimensi balok induk dan balok anak
- Tentukan tebal pelat lantai

Setelah mengetahui bentangan, kita tidak langsung menentukan besaran kolom. Hal yang pertama yang dihitung adalah balok karena balok lah yang menanggung beban bentangan.

1. Dimensi Balok Induk dan Balok Anak

Semakin jauh jarak bentangan, semakin tinggi pula balok yang menopang (agar tidak melendut) dan semakin tinggi balok semakin lebar juga.

a. Tinggi Balok Induk = 1/12 bentang --> 1/12 x 6 m = 0,5 m = 50 cm
b. Lebar Balok  = 1/2 tinggi balok --> 1/2 x 50 cm = 25 cm
c. Tinggi Balok Anak = 1/15 bentang --> 1/15 x 6 m = 0,4 m = 40 cm
d. Lebar balok = 1/2 tinggi balok --> 1/2 x 40 cm = 20 cm
Jadi dimensi balok induk = 25 x 50 cm sementara balok anak 20 x 40 cm. Lebar balok bisa juga dihitung 2/3 tinggi balok.

2. Dimensi Kolom

Setelah mendapatkan dimensi balok, barulah bisa dihitung besaran penampang kolom untuk menopang balok tersebut.
a. Lebar penampang kolom = lebar balok + (2 x 5 cm) --> 25 cm + (2 x 5 cm) = 25 + 10 cm = 35 cm
Jadi ukuran kolomnya adalah 35x35 cm. Jika menggunakan kolom pipih (setebal tembok 15 cm) maka perhitungan luasnya harus tetap sama dengan luas ukuran yang didapat dari rumus di atas.
b. Dimensi jika menggunakan kolom pipih
35 x 35 cm = 15 x panjang pipih --> panjang pipih = 35 x 35 / 15 = 81,67 cm (dibulatkan menjadi 82 cm)
Jadi ukuran kolomnya (jika kolom pipih) menjadi 15 x 82 cm

3. Tebal Pelat Lantai

Tebal pelat lantai tergantung struktur dan pembesian yang digunakan, namun umumnya berlaku rumus sebagai berikut :
a. Tebal pelat lantai = 1/40 bentang --> 1/40 x 6 m = 0,15 m = 15 cm
Jadi tebal pelat lantainya adalah 15 cm.

Sekali lagi, perhitungan ini hanya untuk kepentingan perancangan atau bisa dikatakan untuk keperluan sketsa awal untuk memprediksi saja. Sementara perhitungan dimensi aslinya pastilah lebih rumit termasuk pertimbangan bahan dan kualitas beton.

Baca Juga :



10 komentar

Silahkan tuliskan komentar, Jika ingin berdiskusi lebih lanjut silahkan email ke parsikaproject@gmail.com
EmoticonEmoticon

  1. Trimakasih bang, sangat membantu

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama-sama, semoga bermanfaat dan menambah wawasan

      Delete
  2. Replies
    1. oke siap mas, untuk perhitungan pondasi sederhana bisa kita buat, tapi kalau untuk pondasi bangunan lebih dari 2 tingkat harus ke konsultan struktur sih

      Delete
  3. Kak, itu sumbernya dari buku apa ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini perhitungan orang lapangan, jadi kalau bangunan tingkat 1 yang tidak menggunakan ahli struktur bisa menggunakan perhitungan ini, rumus ini saya dapat saat praktek di lapangan. Kalau mau bukunya, bisa baca ini :

      Komputer, Wahana. 2010. Panduan Praktis Analisis Struktur Bangunan dan Gedung dengan SAP 2000 versi 14. Semarang : Penerbit Andi

      Delete
 

Ketikan dan tekan Enter